Datanglah wahai pecinta Allah Damaikan hati dengan mengingat Nya Raihlah cintanya dengan mencintai kekasih Nya. Muhammad shallallahu alaihi wasallam
Selasa, 05 Mei 2015
Home » Tokoh Sufi » Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari: Pengarang Al-Hikam Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari: Pengarang Al-Hikam
Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho' al-Sakandari al-Judzami al-Maliki as-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya'rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa'ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.
Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu Hasan as-Syadzili - pendiri Tarekat Syadziliyyah - sebagaimana diceritakan Ibnu Atho' dalam kitabnya "Lathoiful Minan": "Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu Hasan as-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: "Demi Allah... kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding." Keluarga Ibnu Atho' adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariyah, seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariyah pada masa Ibnu Atho' memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariyah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawuf dan para Auliya' Sholihin.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho'illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atho' menceritakan dalam kitabnya "Latho'iful Minan": "Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho' yaitu Syaikh Abul Abbas al-Mursi mengatakan: "Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariyah (Ibnu Atho'illah) datang ke sini, tolong beritahu aku", dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: "Malaikat Jibril telah datang kepada Nabi Saw bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi Saw. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi Saw dan mengatakan: "Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka." Dengan bijak Nabi Saw mengatakan: "Tidak... aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka." Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho'illah) demi orang yang alim fiqih ini."
Pada akhirnya Ibnu Atho' memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqih sampai bisa memadukan fiqih dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Ibnu Atho'illah menjadi tiga masa :
Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariyah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, ushul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariyah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho'illah bercerita: "Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau." Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syari'at menentangnya."
Masa kedua
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Syaikh Abu Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama' tasawuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil tarekat langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho' mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : "Apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abu Abbas al-Mursi? Setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatinya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majelisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku."
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf, hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meninggalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru. Dalam hal ini Ibnu Atho'illah menceritakan: "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan: "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi'. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tarekat kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku... apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?" Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tarekat kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga."
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: "Beginilah keadaan orang-orang Shiddiqin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka." Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah."
Masa ketiga
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho' dari Iskandariyah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho'illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Ia membedakan antara uzlah dan khalwat. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwat. Dan khalwat dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwat adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT. Menurut Ibnu Atho'illah, ruangan yang bagus untuk berkhalwat adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.
Ibnu Atho'illah sepeninggal gurunya Syaikh Abu Abbas al-Mursi tahun 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tarekat Syadziliyah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariyah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Atho'illah berceramah di al-Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus shalih, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan." Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : "Ibnu Atho'illah adalah orang yang shalih, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakikat dan orang-orang ahli tarekat." Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriyah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawuf, seperti Imam Taqiyyuddin as-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab "Tobaqoh al-Syafi'iyyah al-Kubro". Sebagai seorang sufi yang alim, Ibn Atho' meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqih, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.
Karomah Ibnu Atho'illah
Al-Munawi dalam kitabnya "Al-Kawakib ad-Durriyyah mengatakan: "Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: "Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia..." Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibnu Atho'illah dengan keras: "Wahai Kamal... tidak ada diantara kita yang celaka." Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho'illah ketika meninggal kelak.
Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibnu Atho'illah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim as, di Mas'aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab "Tidak". Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya: "Siapa saja yang kamu temui?" lalu si murid menjawab: "Tuanku... saya melihat tuanku di sana." Dengan tersenyum al-Arif Billah ini menerangkan: "Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya."
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.
Home » Tokoh Sufi » Syaikh Abu Abbas al-Mursi: Khalifah Besar Syadziliyah Syaikh Abu Abbas al-Mursi: Khalifah Besar Syadziliyah
Wali Qutb kita ini adalah al-Imam Syihabuddin Abu al-Abbas, Ahmad bin Umar al-Anshori, al-Mursi ra. sebagian ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa nasab beliau sampai pada sahabat Sa'ad bin Ubadah ra, pemimpin suku Khazraj. Al-Mursi dilahirkan tahun 616 H (1219 M) di kota Marsiyyah, salah satu kota di Andalus Spanyol. Al-Mursi melewatkan masa kecilnya yang penuh berkah di tanah kelahirannya itu. Lazimnya seorang alim dan pendidik, ayahnya mengirim al-Mursi kecil kepada salah satu waliyullah untuk membimbing menghafal Al Qur'an dan mengajarinya ilmu-ilmu agama. Secepat kilat terlihat kehebatan dan kecerdasannya.
Lebih dari itu ia yang masih sekecil itu telah memperoleh anugrah Allah berupa cahaya ilahi yang merasuk dalam kalbunya. Suatu ketika al-Mursi bercerita: "Ketika aku masih usia kanak-kanak aku mengaji pada seorang guru. Aku menorehkan coretan pada papan. Lalu guru tadi mengatakan: "Seorang Sufi tidak pantas menghitamkan yang putih." Seketika aku menjawab: "permasalahannya bukan seperti yang Tuan sangka. Tapi yang benar adalah seorang Sufi tidak pantas menghitamkan putihnya lembaran hidup dengan noda dan dosa."
Al-Mursi kecil juga mengatakan: "Ketika aku masih kanak-kanak, di sebelah rumahku ada tukang penguak rahasia (peramal) lalu aku mendekatinya. Besoknya aku datang ke guruku yang termasuk waliyullah. Maka guruku itu mengatakan padaku satu syair: "Wahai orang yang melihat peramal sembari terkesima. Dia sendiri sebetulnya peramal, kalau dia merasa.
Al-Mursi meneruskan hidupnya pada jalan cahaya ilahi sampai menginjak dewasa. Semakin hari semakin tambah ketakwaan dan keimanannya. Ayahnya melihatnya sebagai kebanggaan tersendiri. Maka dia dipercaya oleh ayahnya untuk mengelola perdagangannya bersama saudaranya Muhammad Jalaluddin. Dengan begitu, ia telah mengikuti jejak orang-orang saleh dalam hal menggabungkan antara ibadah dan mencari rizqi. Demi menjaga amanat ini ia rela berpindah-pindah tempat dari kota Marsiyah ke kota lainnya untuk berniaga, sambil hatinya berdetak mengingat Allah SWT.
Pada tahun 640 H kedua orang tuanya bersama seluruh keluarga berkeinginan menunaikan ibadah haji. Tapi sayang, takdir berbicara lain. Sesampainya di pesisir Barnih, kapal mereka terkena gelombang. Banyak penumpang kapal yang meninggal termasuk kedua orang tuanya. Singkat cerita al-Mursi muda dan saudaranya melanjutkan perjalanannya ke Tunis untuk berdagang, meneruskan usaha ayahnya.
Al-Mursi menceritakan perjumpaannya dengan Syaikh Abu Hasan as-Syadzili sebagai berikut: "Ketika aku tiba di Tunis, waktu itu aku masih muda, aku mendengar akan kebesaran Syaikh Abu Hasan. Lalu ada seseorang yang mengajakku menghadap beliau. Maka aku jawab: "Aku mau beristikharah dulu!" Setelah itu aku tertidur dan bermimpi melihat seorang lelaki yang mengenakan jubah (Burnus) hijau sambil duduk bersila. Di samping kanannya ada seorang laki-laki begitu juga di samping kirinya. Aku memandangi lelaki nan berwibawa itu. Sejurus kemudian lelaki itu berkata: "Aku telah menemukan penggantiku sekarang"! Di saat itulah aku terbangun.
Selesai menunaikan sholat subuh, seseorang yang mengajakku mengunjungi Syaikh Abu Hasan datang lagi. Maka kami berdua pergi ke kediaman Syaikh Abu Hasan as-Syadzili. Aku heran begitu melihatnya. Syaikh yang ada di hadapanku inilah yang aku lihat dalam mimpi. Dan keherananku semakin menjadi ketika Syaikh Abu Hasan berkata padaku: "Telah aku temukan penggantiku sekarang." Persis seperti dalam mimpiku. Selanjutnya beliau bilang: "Siapa namamu?" Lalu aku sebutkan namaku. Dengan tenang dan penuh kewibawaan beliau berujar: "Engkau telah ditunjukkan padaku semenjak 20 tahun yang lalu!".
Semenjak kejadian itu al-Mursi terus mendapatkan wejangan-wejangan dari gurunya Syaikh Abu Hasan ini. Mereka berdua membangun pondok (zawiyah) Zaghwan di daerah Tunis, di mana as-Syadzili menyebarkan ilmu kepada murid-muridnya yang beraneka ragam latar belakang dan profesinya. Ada dari kalangan ulama', pedagang juga orang awam.
Syaikh as-Syadzili sebetulnya sudah lama meninggalkan Tunis. Ia pergi ke Iskandariyah kemudian ke Mekkah. Kembalinya ke Tunis lagi ini membuat orang bertanya-tanya. Dalam hal ini dia menjawab: "Yang membuatku kembali lagi ke Tunis tidak lain adalah laki-laki muda ini (maksudnya Abu 'Abbas al-Mursi)". Setelah itu Syaikh as-Syadzili kembali lagi ke Iskandariyah, karena ada perintah dari Nabi Muhammad Saw dalam mimpinya.
Ada cerita dari al-Mursi tentang perjalanan ke Iskandariyah ini: "Ketika aku menemani Syaikh dalam perjalanan menuju ke Iskandariyah, aku merasa sangat susah sehingga aku tidak mampu menanggungnya. Lalu aku menghadap Syaikh. Ketika beliau melihat penderitaanku ini, beliau berkata: "Hai Ahmad...!", aku menjawab: "Iya Tuanku", Beliau berkata: "Allah telah menciptakan Adam as dengan tangan-Nya, dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud padanya. Allah kemudian menempatkannya di dalam surga, lalu menurunkannya ke bumi. Demi Allah... Allah tidak menurunkannya ke bumi untuk mengurangi derajatnya, tapi justru untuk menyempurnakannya. Allah telah menggariskan penurunannya ke bumi sebelum Dia menciptakannya, sebagaimana firmannya: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".. (QS. 2:30). Allah tidak mengatakan di langit atau di surga. Maka turunnya Adam ke bumi adalah untuk memuliakannya bukan untuk merendahkannya, karena Adam menyembah Allah di surga dengan di beri tahu (Ta'rif) lalu diturunkan ke bumi supaya beribadah pada Allah dengan kewajiban (Taklif), ketika dia telah mendapatkan kedua ibadah tadi, maka pantaslah dia menyandang gelar pengganti (Khalifah). Engkau ini juga punya kemiripan dengan Adam. Mula-mula kamu ada di langit ruh, di surga pemberitahuan (Ta'rif) lalu engkau diturunkan ke bumi nafsu supaya engkau menyembah dengan kewajiban (Taklif). Ketika engkau telah sempurna dalam kedua ibadah itu pantaslah engkau menyandang gelar pengganti (Khalifah)".
Begitulah Syaikh As-Syadzili mengantarkan Al-Mursi menuju ke jalan Allah demi memenuhi hatinya dengan rahasia ilahiyah supaya kelak bisa menggantikannya, bahkan bisa dikatakan supaya dia jadi Syaikh Abu Hasan itu sendiri. Sebagaimana Syaikh as-Syadzili sendiri pernah mengatakan: "Wahai Abu Abbas... demi Allah, aku tidak mengangkatmu sebagai teman kecuali supaya kamu itu adalah aku, dan aku adalah kamu. Wahai Abu Abbas.. demi Allah, apa yang ada dalam diri para wali itu ada dalam dirimu, tapi yang ada pada dirimu itu tidak ada dalam diri para wali lainnya."
Persatuan antara keduanya ini di jelaskan oleh Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari: "Suatu ketika Syaikh as-Syadzili ada di rumah Zaki as-Sarroj, sedang mengajar kitab al-Mawaqif karangan al-Nafari, lalu beliau bertanya: "Kemana Abu Abbas?" Ketika Syaikh al-Mursi datang, beliau berkata: "Wahai anakku... bicaralah! Semoga Allah memberkahimu... bicaralah! jangan diam", maka Syaikh Abu Abbas mengatakan: "Lalu aku di beri lidah Syaikh mulai saat itu."
Pada banyak kesempatan Syaikh as-Syadzili memuji ketinggian kedudukan Syaikh al-Mursi, beliau mengatakan: "Inilah Abu Abbas, semenjak dia sampai pada makrifatullah tidak ada halangan antara dirinya dan Allah SWT. Kalau saja dia meminta untuk ditutupi, pasti permintaan itu tidak akan dikabulkan.
Ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Syaikh Zakiyyuddin al-Aswani, Syaikh as-Syadzili bekata: "Wahai Zaki... berpeganglah pada Abu Abbas, karena demi Allah, semua wali telah ditunjukkan oleh Allah akan diri Abu Abbas ini. Hai Zaki... Abu Abbas itu seorang laki-laki yang sempurna."
Hal yang sama juga terjadi ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Nadli bin Sulton. Syaikh as-Syadzili mengatakan: "Wahai Nadli... tetaplah bersopan santun pada Abu Abbas! Demi Allah, dia itu lebih tahu lorong-lorong langit, dibanding pengetahuanmu akan lorong-lorong kota Iskandariyah!" Syaikh as-Syadzili juga mengatakan: "Kalau aku mati, maka ambillah al-Mursi, karena dia adalah penggantiku, dia akan mempunyai kedudukan tinggi di hadapan kalian, dan dia adalah salah satu pintu Allah."
Imam Sya'rani menceritakan bahwa suatu ketika ada seseorang yang mengingkari keilmuan Syaikh al-Mursi. Orang tersebut mengatakan: "Berbicara tentang ilmu yang ada itu hanya ilmu lahir, tetapi mereka, orang-orang sufi itu mengaku mengetahui hal-hal yang diingkari oleh syara'". Di kesempatan yang lain orang ini menghadiri majlis Syaikh al-Mursi. Tiba-tiba dia jadi bingung hilang kepintarannya. Seketika itu juga ia tidak mengingkari adanya ilmu batin. Dengan sadar dan penuh sesal ia berkata: "Laki-laki ini sungguh telah mengambil lautan ilmu Tuhan dan tangan Tuhan." Akhirnya dia menjadi salah satu murid dekat al-Mursi. Syaikh Abu Abbas mengatakan : "Kami orang-orang sufi mengkaji dan mendalami bersama ulama' fiqih bidang spesialisasi mereka, tapi mereka tidak pernah masuk dalam bidang spesialisasi kami."
Rupanya kealiman al-Mursi tidak terbatas pada ilmu fiqih dan tasawuf. Syaikh Ibnu Atha'illah menceritakan dari Syaikh Najmuddin al-Asfahani: "Syaikh Abu Abbas berkata padaku: "Apa namanya ini dan itu dalam bahasa asing?" Tersirat dalam hatiku bahwa Syaikh ingin mengetahui bahasa ajam maka aku ambilkan kamus terjemah. Beliau bertanya: " Kitab apa ini?", Aku jawab: "Ini kitab kamusnya." Lalu Syaikh tersenyum dan berkata: "Tanyakan padaku apa saja, terserah kamu, nanti aku jawab dengan bahasa arab, atau sebaliknya." Lalu aku bertanya dengan bahasa asing dan beliau menjawab dengan memakai bahasa Arab. Kemudian aku bertanya dengan bahasa Arab, beliau menjawab dengan bahasa asing. Beliau berkata: " Wahai Abdullah... ketika aku bertanya seperti itu tidak lain adalah sekedar basa-basi bukan bertanya sesungguhnya. Bagi wali tidak ada yang sulit, bahasa apapun itu."
Dalam penafsiran ayat "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan." (QS. 1:5), al-Mursi menafsiri sebagai berikut, "Hanya Engkaulah yang kami sembah maksudnya adalah Syari'ah, dan hanya kepada-Mulah kami memohon adalah Haqiqah. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Islam, dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan adalah Ihsan. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Ibadah, dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan adalah Ubudiyyah. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Farq, dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan adalah Jam'.
Kedekatannya dengan Allah menyebabkan ia banyak mempunyai karomah, di antaranya:
Al-Mursi telah mengabarkan siapa penggantinya setelah ia meninggal. Orang itu adalah Syaikh Yaqut al-Arsyi yang lahir di negeri Habasyah. Suatu ketika ia meminta murid-muridnya agar membuat A'sidah (sejenis makanan). Iskandariyah pada saat itu tengah musim panas. Karena heran ada seseorang yang bertanya: "Bukankah A'sidah itu untuk musim dingin?". Dengan tenang al-Mursi menjawab: "A'sidah ini untuk saudara kalian Yaqut orang Habasyah. Dia akan datang kesini."
Ada seseorang yang datang menghadap al-Mursi dengan membawa makanan syubhah (tidak jelas halal-haramnya) untuk mengujinya. Begitu melihat makanan itu al-Mursi langsung mengembalikannya pada orang tersebut sambil berkata: "Kalau al-Muhasibi hendak mengambil makanan syubhah, otot tangannya bergetar, maka 60 otot tanganku akan bergetar."
Pada suatu masa perang, penduduk Iskandariyah semua mengangkat senjata untuk berjaga-jaga menghadapi serangan musuh. Demi melihat hal ini, Syaikh al-Mursi mengatakan: " Selama aku ada di tengah-tengah kalian, maka musuh tidak akan masuk." Dan memang musuh tidak masuk ke Iskandariyah sampai Syaikh Abu Abbas al-Mursi meninggal dunia.
Munajat Ibnu Athoilah As Sakandari
TUHANKU ,KELUARKAN AKU DARI HINANYA DIRI,SUCIKAN AKU DARI KERAGUAN DAN SYIRIK SEBELUM MASUK LIANG KUBUR! KEPADAMU AKU MEMINTA PERTOLONGAN. MAKA, TOLONGLAH AKU! KEPADAMU AKU BERSANDAR MAKA JANGAN TINGGALKAN DIRIKU! DI PINTUMU AKU BERSIMPUH MAKA JANGAN KAU USIR AKU! KEPADAMU AKU MEMINTA MAKA JANGAN KECEWAKAN DIRIKU! SERTA KARUNIAMU YANG KUINGINKAN MAKA JANGAN KAU HARAMAKAN AKU DARINYA!"
Langganan:
Postingan (Atom)
